Pedalku.com – Bersepeda di jalan berlubang atau di trek offroad menggunakan sepeda full suspension (fulsus) memang memiliki kenyamanan tersendiri. Guncangan–guncangan jalan berlubang itu dapat diredam oleh sepeda fulsus. Pedalis dapat tetap duduk nyaman dari nyeri berlebihan akibat jalan keriting.

Indonesia Bike Works (IBW), produsen sepeda Thrill, menyadari kenyamanan bertualang menggunakan sepeda fulsus. Kesadaran itu akhirnya membuahkan sepeda fulsus kelas entry level yang diberi nama Thrill Oust.

Inilah salah satu sepeda fulsus pertama yang menggunakan merk Thrill. Sebelumnya IBW hanya menggunakan merk Thrill untuk sepeda hardtail.

Ada 2 varian Thrill Oust yang dipasarkan IBW, Thrill Oust 1.0 yang memiliki kombinasi gigi 24 speed, serta Thrill Oust 2.0 dengan 21 speed. Untuk mengenal lebih jauh dengan Thrill Oust 2.0, pedalku.com melakukan uji coba Thrill Oust 2.0 di trek onroad maupun offroad.

Thrill Oust 2.0 dilengkapi dengan group set Shimano Tourney untuk rear derailleur dan front derailleur. Untuk menghentikan laju sepeda, Oust 2.0 sudah dilengkapi dengan mechanical disc brake Radius BX-350.

IMG_20151024_070040

Sementara itu peredam guncangan pada Oust 2.0 menggunakan fork travel 100mm dan rear shock KindShock KS260. Dengan harga Rp2.880.000 Thrill Oust 2.0 sudah dilengkapi dengan stem dan handle bar berbahan alloy. IBW juga melakukan branding pada semua komponen sepeda yang digunakan. Fork, stem, handle bar, seatpost, saddle bahkan crankset dan wheelset semuanya bertuliskan Thrill. Kesan matching muncul saat melihat semua komponen yang digunakan bertuliskan Thrill.

Saat melakukan pengujian, pedalku menurunkan 2 test ridernya yang memiliki karakter dan kebiasaan berbeda. Test rider yang terbiasa menggunakan sepeda hardtail mendapat kesempatan pertama. Bintaro loop menjadi awal uji coba yang kemudian diteruskan di trek offroad Jalur Parigi Baru dan Jalur Pipa Gas, Serpong.

Terbiasa dengan sepeda hardtail, Oust 2.0 memberi kenyamanan saat sepeda membentur speed bump/ poldur. Walau terlihat bobbing saat mengayuh di jalan mulus, test rider pedalku ini masih dapat menikmati setiap kayuhannya.

Saat memasuki trek offroad, walau perpindahan gigi agak lambat untuk diajak berXC ria, test rider 1 sangat menikmati berpacu di trek tanah itu. Apalagi saat menghadapi turunan, Oust 2.0 dapat dipacu lebih cepat.

Saat berpindah tangan, perasaan sedikit berbeda dirasakan oleh test rider 2. Walau bobbing tetap dapat ditoleransi untuk melaju di jalan mulus, pergerakan naik-turun pada rear shock itu dirasakan berbahaya bila Oust 2.0 dipacu di trek offroad, terutama saat melibas drop-off.

Guncangan itu dapat membuat pedalis terjatuh bila tidak waspada mengantisipasi pergerakan rear shock. Hmmm…. Hal itu sebenarnya memang disadari oleh IBW. Mereka pun saat peluncuran Thrill Oust mengeluarkan rilis untuk tidak menggunakannya dalam kompetisi sepeda gunung.

IMG_20151024_070435

Oh iya, saat membeli Thrill Oust 2.0 ini, pedalis sebaiknya menyiapkan dana lebih untuk mengganti pedal karena pedal bawaan masih menggunakan pedal plastik. Satu lagi pedalis perlu mengikat kabel rem belakang lebih kuat lagi karena saat pengujian kabel rem belakang sering tertarik mengikuti ayunan suspensi belakang.

Setelah merasakan Oust 2.0 di trek onroad maupun offorad, Thrill Oust 2.0 dapat menjadi pilihan bagi pedalis yang tidak suka terpacu adrenalinnya saat melihat drop-off maknyus. Dengan harga dibawah 3 juta rupiah, sepeda fulsus sudah dapat pedalis angkut untuk memulai petualangan bersepeda di trek XC ringan.

Jozlyn

Work hard, bike harder.

By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

View all posts

6 comments

Komentar Kamu