Sebelumnya saya tidak tahu mengenai pantai Sawarna, yang saya tahu hanya pantai pasir putih Bayah. Awal tahun 90-an saya, Bapak dan kakak pertama jalan-jalan keliling Jawa Barat menggunakan mobil. Berangkat pagi-pagi dari Jakarta ke arah Pelabuhan Ratu terus menyusuri pantai sampai ke Malingping. Dari Malingping kemudian berbelok ke arah Anyer dan kembali ke rumah melalui Serpong. Rencana awal sih memang akan menginap 1 malam di Anyer, tapi setelah lewat Anyer menjelang malam kok serasa tidak sreg. Akhirnya teruslah mobil dijalankan sampai kembali ke rumah.

Sepanjang Bayah – Malingping kami takjub dengan indahnya pantai yang terbentang. Pasir putih yang luas dan laut biru menggugah hati kami. Namun saat itu kami menyayangkan belum terjamahnya daerah tersebut untuk tujuan wisata. Bila dikelola dengan baik, kami yakin akan sepopuler Bali.

Saat itu Bapak pun bercerita mengenai jalur kereta batubara yang pernah ada di Bayah. Jalur kereta yang hanya tersisa beberapa bagian saja,  yang turut dibangun oleh kakek saya. Jalur kereta yang merupakan bagian dari sejarah kekejaman penjajahan Jepang di Indonesia. Jalur kereta maut 89 km sepanjang Saketi – Bayah, menelan lebih dari 93.000 jiwa saat pembangunannya, yang menggunakan sistem kerja paksa romusha. Tapi beruntunglah kakek saya bukan bagian dari romusha tersebut.

Setahun lalu, keindahan Bayah kembali menari-nari dibenak saya. Beberapa teman memamerkan foto-foto keindahan Sawarna saat menjejakkan ban sepeda mereka di sana. Ajakan bersepeda ke Sawarna pun berhembus kencang dan langsung saya sambut dengan antusias. Bukan Sawarna yang menarik perhatian saya, Bayahlah yang rasanya menjadi daya tarik yang lebih kuat. Ya, saya ingin kembali menelusuri apa yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu, melihat apakah masih tersisa rel-rel kereta api yang menjadi saksi sejarah.

Menuju Goa Langir

Jum’at malam,  sepulang dari kantor masing-masing, kami beriringan menuju stasiun kereta api Tanah Abang, mengejar kereta terakhir tujuan Rangkasbitung. Masih cukup waktu untuk naik ke gerbong barang dan menempatkan sepeda dengan leluasa. Koran pagi seharga seribu rupiah kami beli sebagai alas duduk. Mendekati pukul 8 malam, saat kereta dijadwalkan untuk berangkat, gerbong barang mulai dipenuhi oleh bermacam-macam penumpang. Mulai dari pedagang Tanah Abang, pengamen, orang kantoran (begitulah tampak dari penampilannya) sampai pekerja-pekerja kasar (kalau tidak mau disebut preman). Perjalanan dari stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung memakan waktu ±2,5 jam.

Sabtu pagi setelah beristirahat di salah satu penginapan di dekat stasiun Rangkasbitung, yang ternyata penginapan remang-remang (kami tahu itu setelah lewat tengah malam terdengar suara-suara khas), kami memulai perjalanan bersepeda menuju Sawarna. Jam 8 pagi kami bersepuluh baru bergerak dari penginapan, bukan karena terbayang-bayang suara-suara yang terdengar tadi malam,  tetapi karena menunggu salah satu teman yang menyusul menggunakan mobil dari Jakarta.

Perjalanan kami diawali dengan menyeberang sungai Ciujung dan menyusuri jalan Ahmad Yani menuju jalan raya Pandeglang – Rangkasbitung. Seharusnya untuk rute yang lebih dekat setelah menyeberang sungai Ciujung, belok kiri di jalan Syech Nawawi. Namun karena pantang kembali, walau baru terlewat ±2 km, kami teruskan perjalanan dan belok di jalan Sampay – Gn Kencana. Jalan yang dilalui lebih banyak rusak, tetapi untunglah disuguhkan pemandangan yang indah, dengan kontur naik – turun. Sebelum melewati Gn Kencana, tepatnya di pertigaan Cikulur, kami memilih berisitrahat makan siang. Pilihan ini lebih karena pertimbangan jalur yang dilalui akan melewati perkebunan sawit. Sepanjang jalur tersebut tentu akan jarang ditemui tempat makan. Tetapi perkiraan kami meleset. Tak jauh dari pertigaan Cikulur, masih ditemukan beberapa tempat makan yang berdekatan. Setelah itu barulah tak terlihat warung makan.

Menuju Gn Kencana kontur jalanan yang naik – turun masih banyak ditemukan. Lepas dari Gn Kencana, jalan yang dilalui mulai menurun menuju Malingping kemudian pantai Bayah. Dari ketinggian 300 mdpl turun menuju 16 mdpl. Sesampainya di pantai pasir putih, Bayah, kami beristirahat sejenak sambil menikmati tenggelamnya sang mentari di ufuk timur. Tentu saja foto-foto menjadi menu wajib yang tak boleh dilupakan.

Pasir Putih Bayah

Saat mentari mulai tak terlihat, kami melanjutkan perjalanan sepanjang pantai Bayah. Di tengah kegelapan malam kami berjalan beriringan dengan kecepatan tertentu. Menjaga agar rombongan tidak terbagi menjadi beberapa kelompok. Kecepatan yang tidak terlalu tinggi, gelapnya malam serta jalan yang dilalui cenderung datar sepanjang 30 km membuat etape ini serasa membosankan. Etape ini berakhir di pertigaan Karangtaraje – Darmasari, arah kiri menuju Cisolok sedangkan arah kanan menuju Sawarna.

Mulai dari pertigaan ini, perjalanan kembali menjadi menarik. Menarik karena kami memasuki hutan lindung, setelah sebelumnya menyeberangi muara. Di seberang muara yang cukup besar, kita akan bertemu dengan beberapa tempat hiburan malam di tepi pantai. Tempat hiburan ini berderet di sisi kanan, mendentumkan lagu-lagu dari genre tertentu. Setelah itu jalanan yang dilalui pun mulai menanjak. Menanjak lumayana tinggi di tengah hutan lindung yang gelap, dengan jalan yang tidak bisa dibilang mulus. Silahkan dibayangkan sendiri bagaimana sensasinya.  Etape terakhir ini semakin menarik karena tak lebih dari 10 km kami akan tiba di Sawarna.

Menikmati Perkampungan Sawarna

Sebelum tiba di perkampungan Sawarna, akan ada turunan yang cukup curam. Berhati-hatilah di turunan ini karena curam dan jalan yang dilalui tidak terlalu mulus. Selepas turunan sudah tampak beberapa rumah penduduk yang dapat dijadikan tempat menginap, tetapi lebih asyik meneruskan perjalanan. Menyeberang sungai Ciantir, dengan jembatan gantung yang hanya bisa dilalui secara bergantian. Di seberang sungai itu lebih banyak lagi rumah penduduk atau pun penginapan dengan berbagai tarif. Kami sebelumnya telah memesan home stay dengan tarif 100 ribu perorang untuk menginap 1 malam dengan 3x makan. 128 km jarak tempuh dari stasiun Rangkasbitung ke Sawarna.

Sawarna, dengan taglinenya ‘The Great Place in South Banten’ menawarkan berbagai macam keindahan alam. Salah satu keindahan alam yang menjadi icon Sawarna adalah batu layar. Batu layar ini menjadi objek favorit para penggemar fotografi.  Batu layar ini merupakan batu besar yang berada di tengah laut dengan bentuk menyerupai layar. Saat air surut, kita dapat mendekat ke batu layar melalui hamparan karang yang tersebar di sekitar garis pantai. Saat ombak besar, kita juga dapat menikmati deburan ombak yang pecah saat menghantam barisan karang yang seolah menjadi benteng serbuan ombak ke pantai. Dengan posisi sedemikian rupa, deburan ombak ini akan berjalan dari ujung kanan sampai ke ujung kiri benteng karang tersebut. Sangat menarik untuk ditunggu.

Batu Layar Sawarna

Sawarna juga menawarkan pantai pasir putih yang luas. Penggemar surfing pun tampak berkeliaran mencoba bermain-main dengan ombak pantai selatan yang memang terkenal besar. Tak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara juga banyak terlihat di Sawarna.

Pasir Putih Sawarna

Letak Sawarna yang agak terpencil menciptakan suasana damai. Kearifan lokal juga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi Sawarna. Dengan 100 ribu perorang untuk menginap 1 malam, 3x makan prasmanan dengan menu yang beragam dan sangat layak. Ayam goreng, ikan goreng, sayuran dan buah pisang bisa dinikmti sepuasnya. Sangat menarik bukan. Ayo tunggu apalagi, segera agendakan touring ke Sawarna!

Jozlyn

Work hard, bike harder.

By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments