Fit

Tak Ada Alasan Untuk Tak Bersepeda

Banyak alasan orang untuk tak bersepeda ke kantor. Faktor jarak, polusi, kesulitan parkir atau mandi menjadi beberapa alasan. Padahal, untuk kota-kota besar seperti Jakarta, kemacetan yang sudah sangat parah membuat bersepeda menjadi alternatif transportasi ke kantor yang cukup handal. Pengalaman penulis, dengan jarak rumah – kantor sekitar 23 km, perbedaan waktu antara naik sepeda dan naik motor sekitar 15 menit. Jika dibandingkan dengan kendaraan roda empat atau naik angkutan umum bisa terpaut sangat jauh.

Selain waktu, keuntungan lain dari bersepeda ke kantor adalah uang. Pedalis tak perlu membeli bensin, tiket tol, karcis kendaraan umum, dan biaya parkir. Masih ada nilai plusnya. Lecutan adrenalin yang membuat kondisi pedalis dalam puncak kesempurnaan pikiran untuk menghadapi hari kerja.

Jika pedalis masih belum yakin untuk bersepeda ke kantor, simak jawaban-jawaban berikut untuk alasan-alasan yang populer berikut.

  1. Alasan: Tidak aman untuk bersepeda di jam sibuk.
    Solusi: Carilah jalan tikus yang tidak begitu macet. Bisa jadi akan menambah waktu beberapa menit, namun hal itu akan membuat Anda lebih sehat dan menyenangkan.
  2. Alasan: Saya tidak mampu beli sepeda komuter.
    Solusi: Gunakan sepeda yang ada saat ini. Atau beli yang bekas. Berat bukan ukuran kekuatan. Sepeda gunung tua yang pejal atau sepeda balap atau sepeda hybrid dengan ruang fork cukup untuk ban yang agak lebar sudah bisa digunakan untuk komuter.
  3. Alasan: Saya harus tampil rapi dan tidak bisa membawa perlengkapan ngantor di pannier saya.
    Solusi: Pakailah mobil sehari dalam seminggu, dan bawa seluruh perlengkapan ngantor selama seminggu. Pada minggu kedua ambil pakaian yang kotor.
  4. Alasan: Di kantor tidak ada tempat untuk mandi.
    Solusi: Untuk bebersih, gunakan sabun deodoran dan handuk basah di toilet. Atau basahi handuk dengan larutan alkohol yang dijual di apotek dan sapukan ke seluruh tubuh. Selain mendinginkan tubuh juga membunuh bakteri penyebab bau badan. Tips lain ada di sini.
  5. Alasan: Tak ada tempat parkir yang aman untuk sepeda.
    Solusi: Cobalah cek di gudang atau dapur. Atau titipkan kepada kenalan yang tinggal di dekat situ. Atau toko sepeda. Bisa juga di dekat pos penjagaan kantor. Kunci ke benda diam untuk keamanan tambahan.
  6. Alasan: Saya tidak bisa bangun lebih pagi untuk bersepeda ke kantor.
    Solusi: Tidur beberapa menit di pagi hari tidaklah sesegar dibandingkan dengan bersepeda di pagi hari. Selain itu, bersepeda pulang ke rumah membuat tubuh pedalis santai, sehingga  tidur pun lebih pulas. Kualitas menang atas kuantitas.
  7. Alasan: Karena jadwal kerja saya, saya harus pulang larut malam.
    Solusi: Pakailah sepeda warna terang, baju yang memantulkan cahaya, lampu dan pemantul sepeda, dan gunakan rute yang jalannya terang. Rompi yang dilengkapi pemantul cahaya juga banyak dijual dan harganya murah.
  8. Alasan: Saya tidak suka bersepeda di musim hujan.
    Solusi: Jika susah untuk bersepeda, tunda dulu bersepedanya. Namun pedalis tetap harus menyiapkan jaket antiangin, mantel hujan, baju hangat, dan sejenisnya. Ban dengan profil kasar bisa digunakan.
  9. Alasan: Jarak ke kantor terlalu jauh.
    Solusi: Cobalah untuk bersepeda setengah jalan. Berkendaraan sampai jarak tertentu, parkir di tempat yang aman, dan jarak tersisa ditempuh dengan bersepeda. Jika memungkinkan ganti kendaraan pribadi dengan angkutan umum yang masih memungkinkan kita membawa sepeda.
  10. Alasan: Jarak kantor terlalu dekat sehingga kurang bermanfaat bersepeda.
    Solusi: Ambil rute yang agak jauh, dengan pemandangan lebih bagus, baik saat berangkat atau pulang kerja.
  11. Alasan: Orang berpandangan aneh melihat saya bersepeda ke kantor.
    Solusi: Bisa jadi iya, tapi mengapa harus peduli? Berharap beberapa dari mereka malah akan mengikuti jejak kita melihat keuntungan-keuntungan yang diperoleh: sehat, murah, dan peduli lingkungan. Pedalis bisa jadi akan membuat mereka tertarik untuk mencoba menjadi komuter.

Ayo, mulai dari sekarang.

About Author

Always curious about bike and the philosophy of cycling.

Komentar Kamu