Fit

Biawak Dan Sapi Di Jalan Rolling Pulau Weh

Jelajah Sepeda Sabang Padang yang diprakarsai oleh salah satu surat kabar harian di Indonesia ini dimulai pada 31 Agustus 2013 lalu. Etape pertama ini dimulai dari tugu Nol Kilometer Sabang, Pulau Weh dan berakhir di Banda Aceh. Sayuti, Asisten I Bidang Pemerintahan kota Sabang mewakili Walikota Sabang mengibarkan bendera start sebagai tanda dimulainya perjalanan sepanjang 1.539 kilometer selama 14 hari.

Etape pertama ini hanya menempuh jarak 53 kilometer tetapi peserta langsung dihadang tanjakan pada 150 meter selepas garis start. Walau telah melakukan latihan dan menyadari karakter jalanan di pulau Weh yang naik-turun, tanjakan di 150 meter selepas start itu membuat peserta seperti kaget. Terlebih ada biawak yang terlindas mobil patroli di lajur kanan, membuat peserta yang ingin mendahului peserta lain dengan memanfaatkan lebar jalan jadi membatalkan niatnya.

Tanjakan panjang serta belum panasnya dengkul para peserta jelajah membuat beberapa dari mereka akhirnya mengeluarkan jurus tertinggi dalam dunia persepedaan, yaitu menuntun sepeda! Seorang peserta bahkan sempat terjatuh karena pergantian gir belakang kurang mulus. Regrouping pun akhirnya dilakukan setelah baru menempuh 9 kilometer.

Kontur jalanan Pulau Weh yang naik turun merupakan tantangan yang harus dihadapi peserta jelajah. Peserta dituntut dapat melakukan strategi kapan mengirit tenaga dan kapan melepaskannya untuk mencumbu tanjakan.

Tak Ada Jaln Datar Di Pulau weh

Tak hanya tanjakan yang menghadang, sapi juga kerap menghadang peserta pada etape pertama ini. Saat memasuki sisi barat Pulau Weh, sapi milik penduduk setempat yang merumput di sekitar jalanan kerap merepotkan rombongan jelajah sepeda. Begitu mendengar sirine dari mobil patwal, gerombolan sapi ini lari tunggang langgang. Tak jarang sapi-sapi tersebut malah menyeberang jalan sehingga peserta harus berhati-hati.

Beban berat peserta menaiki tanjakan bertambah dengan cuaca yang panas selepas makan siang. Walau sempat girang melihat turunan berkelak-kelok dengan latar belakang laut membiru, namun di balik kelokan itu masih ada tanjakan sebelum akhirnya sampai ke pelabuhan Balohan.

Birunya Laut Pulau Weh

Memasuki Bumi Rencong, peserta jelajah diajak ke Museum Tsunami Aceh. Di sini peserta diajak untuk melihat kilas balik peristiwa yang menggemparkan dunia pada 26 Desember 2004 lalu. Peristiwa menyedihkan yang merenggut nyawa saudara-saudara kita di Aceh.

Diiringi gerimis peserta akhirnya menuju ke Hotel Grand Nanggroe untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh ~ menyiapkan fisik menghadapi beratnya etape 2 sejauh 159 kilometer dengan kondisi jalan tetap rolling.

About Author

Work hard, bike harder. By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

Komentar Kamu