Fit

Bias Purnama Di Danau Tondano

Alief El-Ichwan, pedalis asal Bandung melakukan perjalanan seorang diri menjelajah Bumi Sulawesi pada bulan April – Mei 2014. Alief memulai perjalanan dari kota Manado dan berakhir di Makassar. Berikut cerita perjalanan Alief yang akan ditulis berseri.

Pedalku.com – Setibanya di bandara Sam Ratulangi, Manado, segera saya rakit sepeda, pannier dan lainnya. Hari itu Selasa, 15 April 2014. Perjalanan dari Bandung ke Manado melalui Surabaya cukup menyita waktu. Saya pun tak merencanakan langsung memulai penjelajahan saya di pulau berbentuk K ini. Tapi saya juga agak sedikit bingung dengan kota berjuluk Tinutuan. Saya harus ke mana? Tak ada bayangan secuil pun tentang kota Manado, selain nona-nona cantik berkulit putih. Hujan pun cukup deras di luar sana.

Saat mulai reda, saya mulai mengayuh menuju kota Manado. Tak berapa lama hujan kembali membesar. Selintasan saya melihat kantor polsek. Tak ada pilihan lain untuk beristirahat selain di polsek itu.

Membuka tenda di halaman polsek terbersit di benakku, sayangnya tak mendapat ijin. Oleh petugas jaga, saya ditempatkan di ruang tengah. Di sudut ruang itu terdapat sebuah dipan tanpa alas tidur. Rasanya cukup untuk membaringkan tubuh, ditemani bantal tiup yang saya bawa. Namun suara HT (Handy Talky) membuat tidurku tak begitu lelap. Suara hujan di atap polsek yang terbuat dari seng pun membangunkanku pada pukul empat dinihari.

“Yah, awal perjalanan yang kurang mulus,” batin saya. Namun dalam situasi apapun saya harus segera berkemas, memulai perjalanan ke arah Tomohon dengan tujuan ke danau Tondano.

Pagi itu rintik hujan masih membasahi jalan yang sepi. Suasana hari Paskah terasa dimana-mana. Kayu-kayu salib dipancangkan di tepi jalan. Hiasan kertas warna-warni tampak di setiap rumah. Mengingatkanku pada perayaan lebaran di masyarakat mayoritas muslim.

“Duh, enaknya kalau ada warung makan,” batinku merespon laparnya perut. Nasi kuning, seperti banyak di jual di pinggir jalan di kota Bandung, menjadi santapan pagi itu. Semalam hanya makan nasi bungkus, yang dibekali Cak Adhi, pedalis Surabaya yang mengantar kepergian saya.

Saya mulai menyusuri jalan trans Sulawesi. Kendaraan cukup ramai. Saat hujan turun (lagi) agak lebat, saya menepi ke warung di seberang jalan. Beruntung, di warung itu bisa membuatkan mie rebus + telur.

Sambil menikmati mie rebus, saya melihat arah jalan yang akan ditempuh. Jalan memanjang membelah bukit. Terlihat menurun lalu melambung naik. Agaknya jalan belum lama diperlebar.

Saya tak membekali diri dengan alat penunjuk arah, hanya bermodalkan GPS ~ Gerakan Bertanya Saja. Toh dengan cara seperti itu sering menemukan hal tak terduga. Seperti saat menuju arah ke Tomohon, mendadak ada petunjuk makam Tuanku Imam Bonjol. Saya tergelitik untuk mengunjunginya. Saya baru tahu jika pahlawan dari ranah Minang dimakamkan jauh di luar tanah kelahirannya.

DSCN0710

Arah ke makam Imam Bonjol agak menanjak. Namun tak begitu jauh, hanya berjarak 300 m dari jalan trans Sulawesi. Makam dengan bangunan rumah gadang itu tepatnya berada di depan sebuah masjid di desa Lotta kecamatan Peneleng Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Tak banyak yang bisa digali dari keberadaan makam pahlawan ini. Dari ibu sang pemilik warung hanya diperoleh informasi bahwa masyarakat sekitar makam memeluk agama Islam.

Menuju kota Tomohon sempat memasuki terowongan pendek. Terlihat sebuah patung Yesus Kristus yang cukup besar. Ketika memasuki pusat kota, jalan mengecil, berkelok-kelok dan menanjak.

Saat menggowes di tanjakan menuju Tomohon ini, saya teringat pada pembicaraan saat menunggu hujan reda di Bandara. Ada yang berkomentar: bersepeda dengan membawa beban seperti yang saya jalani tak akan bisa dilakukan. Saya hanya tersenyum. Mungkin melihat fisik saya yang kecil.

Tiba di jalan menuju ke danau Tondano, hujan tak turun lagi. Nampak terhampar kawasan yang datar dan luas. Sebagian berupa hamparan sawah. Paling menarik, cukup banyak sapi yang merumput, berpadu dengan burung kuntul yang ada di dekatnya. Sesekali terlihat burung yang berbulu putih dan berleher panjang itu beterbangan. Sebuah lanskap alam yang eksotis.

Tiba di tepi danau Tondano hari menjelang sore. Perlahan saya melaju di pinggir danau. Rimbunan pohon di kiri kanan jalan membuat udara terasa sejuk. Di tepian terlihat jajaran rumah dibangun di atas permukaan air danau.

Ketika menemukan tempat datar, saya segera menghentikan kayuhan. Tempat yang pas untuk bermalam dengan mendirikan tenda, pikir saya. Terlebih ada akses ke danau berupa bebatuan. Dan… kehadiran saya disana, menarik perhatian sejumlah anak. Awalnya mereka mengira saya turis bule.

tondano

Mereka pun mengajukan banyak pertanyaan. Saya dari mana? Mau kemana? Di sepeda bawa apa saja? Sampai merk dan harga sepeda pun ditanyakan. Duh…. gaya bicara khas Sulawesi yang cepat, kurang bisa saya tangkap. Terlebih banyak kosa kata daerah yang tak dipahami.

Anak-anak begitu antusias ketika saya mendirikan tenda. Mata mereka nampak takjub, begitu mudahnya mendirikan tenda. Begitu pula pada lampu tenda yang saya bawa, serta peralatan berkemah lainnya seperti kompor berbahan spirtus. Saya sempat memperagakannya dengan menjerang air di teko kecil untuk membuat teh manis. Cetusan “weey” berupa kekaguman ke luar berkali-kali dari mulut mereka.

Saya juga kagum pada mereka. Begitu tangkas mereka berenang di danau Tondano. Tanpa takut dan khawatir tenggelam. Bahkan ketika ada wisatawan lokal yang tertarik dengan aktivitas saya, mereka melemparkan uang koin ke arah danau. Anak-anak pun segera berebutan menyelam. Tak lama seorang anak muncul dengan koin sudah di tangan.

Menjelang malam, suasana terasa lengang. Hanya terdengar kecipak air yang memukul-mukul tepian danau. Nun diseberang sana, terlihat lampu-lampu rumah yang ada di tepian danau Tondano. Udara biasa saja, tak dingin seperti di Ranca Upas ataupun Cikole Lembang. Udaranya mengingatkan saat berkemah di waduk Jatiluhur.

Rupanya bulan masih sedang purnama. Meski awalnya ditingkap awan hitam, namun perlahan terbentuk sempurna tanpa sungkan. Cahayanya membias di permukaan air danau. Arahnya dari sebelah kiri tenda yang menghadap danau. Suasana yang cukup memukau.

Saya teringat pada rekan-rekan goweser di Bandung yang suka bike camping. Jika saja danau Tondano ini bisa dipindahkan, pasti akan dijadikan tempat tamasya sambil bersepeda dan kemping. Memasak, membuat api unggun dan berbincang diselingi gelak tawa.

Namun saya disini sendirian. Saya segera menelusup ke dalam sleeping bag. Saya biarkan penutup depan tenda terbuka setengahnya. Toh, udara tak begitu dingin. Cahaya bulan menerobos  kelambu mengucapkan salam pada cahaya lampu tenda di dalam. ‘Selamat datang di Sulawesi….’

 

Foto : Alief El-Ichwan.

About Author

Work hard, bike harder. By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

Komentar Kamu