netfit.id – Dalam road to Mangkunegaran Run in Solo 2024 di GBK Senayan Jakarta beberapa waktu silam, Bima Arya yang ikut dalam acara itu menggarisbawahi tentang minat orang menggabungkan olahraga sekaligus berwisata. Kecenderungan ini semakin meningkat akhir-akhir ini.

Jika dirujuk ke belakang, sepertinya ini imbas dari pandemi beberapa tahun silam. Ketika pandemi pariwisata bisa dibilang mati suri. Di sisi lain, untuk meningkatkan stamina, banyak orang mulai giat berolahraga meski ruang menjadi kendala. Lahirlah olahraga individu yang dilakukan di ruang-ruang tertutup. Mereka yang suka lari memanfaatkan treadmill. Yang tidak punya treadmill memanfaatkan ruang makannya yang sempit. Sampai kemudian muncul kegilaan-kegilaan berolahraga. Seperti berlari maraton dengan memutari meja makan yang tak sampai 100 m jaraknya. Bisa dihitung harus memutar berapa ratusan atau ribu kali sebab jarak maraton 42.195 km.

Ketika pandemi berlalu, orang pun berbondong-bondong menuju tempat-tempat wisata. Sementara kebiasaan berolahraga tak lantas mlempem. Justru makin menggeliat. Alhasil, olahraga dan wisata pun berjalan beriringan. Bisa saja bapak ikut lomba lari, istri dan anak-anaknya liburan. Atau malah sekeluarga pada ikut lomba lari di kategori berbeda, sementara sebelum atau sesudah lomba mereka akan berwisata.

“Saya belum pernah ke Solo. Jadi milih lomba di Solo ini,” kata Rildova, dosen di sebuah perguruan tinggi di Bandung ini bercerita alasan mengikuti Mangkunegaran Run in Solo 2024 ini.

“Sama seperti kemarin ikut Toba Marathon, karena belum pernah ke Danau Toba,” tambahnya.

Senyampang ke Solo itu, Rildova dan keluarganya jalan-jalan seputar Solo menikmati suasana dan kuliner kota berjuluk The Spirit of Java ini.

Kanjeng Gusti ikut serta dalam kategori 5K (no. 2 dari kiri) bersama saudaranya Paundra (Pangeran Sepuh, paling ujung kanan).

Ada beberapa pelari seperti Rildova yang Netfit temui. Bahkan ada yang lebih lama tinggal di Solo. Dari catatan panitia, sebanyak 80 persen dari total peserta Run In Solo merupakan pelari luar kota. Tentu ini akan memberi dampak ekonomi bagi kota Solo. Acara seperti ini tentu diapresiasi oleh Wakil Walikota Teguh Prakosa yang ikut melepas para pelari. Adanya kegiatan ini akan menggerakkan roda ekonomi karena para peserta lari tentu akan menginap dan makan.

Selain sebagai ajang olahraga, Mangkunegaran Run In Solo juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Adeging Istana Pura Mangkunegaran ke-267. Kerjasama antara Pura Mangkunegaran dengan berbagai pihak, seperti Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, turut memeriahkan acara ini dengan kolaborasi seniman tari ternama.

“Adeging Mangkunegaran merupakan upaya bersama untuk merawat kebudayaan. Adeging menjadi momen untuk merayakan ulang tahun Mangkunegaran ke-267, ini tentu bukan usia yang muda tapi bagaimana kami bisa terus tumbuh berkembang dan kebudayaan bisa terus bermanfaat,” jelas K.G.P.A.A Mangkunagoro X.

Menurut Mangkunagoro X, Pura Mangkunegaran melibatkan warga Solo dalam menyelenggarakan Adeging Mangkunegaran, antara lain bekerja sama dengan pelaku UMKM di setiap kecamatan di Kota Solo.

Mangkunegaran Run In Solo terbagi dalam tiga kategori, yakni 5K, 10K, dan half marathon. Untuk mengenalkan wisata Solo, peserta akan dilewatkan ke beberapa bangunan ikonik di Solo seperti Stasiun Solo Balapan, Benteng Vastenburg, Solo Safari, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Monumen Pers Nasional, Taman Balekambang, dan Masjid Sheikh Zayed.

Gelaran Mangkunegaran Run in Solo ini menjadi era baru olahraga, tak hanya mencari sehat raga tapi juga jiwa.

Taman Sriwedari, taman yang bersejarah ini dibangun pada era Sultan Pakubuwono X pada tanggal 1 Januari 1902.

GuSSur

Menghidupi setiap gerak dan mensyukuri setiap jejak.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments