Matahari belum menampakkan diri, bersembunyi di belahan dunia lain. Ayam jago pun masih enggan berkokok, hanya melirik sebentar dan memejamkan kembali matanya saat mendengar kegaduhan dinihari itu. Dinginnya udara tak menyurutkan semangat kami memasukan sepeda ke dalam mobil ~ yang akan membawa kami ke Masjid Agung, Cilegon, titik awal perjalanan menuju habitat badak di Ujung Kulon.

Walau diantar pak supir dinihari itu, mata tak dapat terpejam seperti ayam jago yang asyik bermimpi dalam tidurnya, entah apa yang diimpikannya. Kami terlalu excited mungkin, membayangkan kenikmatan mengayuh sepeda sepanjang selat Sunda. Atraksi ‘stuntman’ sedan hatchback ~ menyalip dari kiri, melintir ke jalur kanan, bagian buritan menabrak truk kemudian terbang ke kiri sebelum berhenti tak bergerak tertahan pohon ~ di tol Jakarta – Merak pun tak dapat mengalihkan pikiran kami.

Tiba di Masjid Agung , Cilegon, matahari mulai tersenyum kepada kami. Dengan cepat kami merakit sepeda beserta pannier dengan segala macam isinya. Tak lupa untuk sarapan, segera kami mengayuh pedal menuju jalan raya Anyer, menyusuri pantai menuju Labuhan sebelum mengarah ke Sumur dan Taman Jaya di Ujung Kulon.

Masjid Agung, Cilegon

Awal perjalanan ditemani ramainya kendaraan bermotor yang lalu-lalang di kawasan industri Cilegon. Selepas itu, jalanan mulus dan tidak terlalu ramai. Susur pantai Anyer di pagi hari sangat nyaman untuk dinikmati. Medan datar nan teduh menemani perjalanan menuju Labuhan.

Kawasan Industri Cilegon Crop

Beberapa lokasi menawarkan pemandangan indah; tak hanya hamparan selat Sunda dengan putihnya pasir di kanan, bukit dan hamparan sawah diterpa sinar matahari pagi di sebelah kiri memberi kesan damai bagi pedalis yang melintas. Jangan lupa, di kawasan Anyer ini terdapat mercusuar yang dibangun tahun 1885. Mercusuar ini dikenal pula sebagai titik nol jalan raya Pos Anyer – Panarukan ~ de Grote Postweg ~ yang dibangun oleh Jendral Daendels. Mampirlah untuk sekedar berfoto mengabadikan bangunan bersejarah Indonesia.

De Grote Postweg dibangun pada tahun 1807 oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, penguasa pulau Jawa pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia. Jalan raya yang membentang sepanjang pantai utara pulau Jawa itu memiliki panjang total 1000 km. Pada setiap 4,5 km terdapat pos tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat. Selesai hanya dalam waktu 1 tahun, yang merupakan pencapaian luar biasa pada masa itu. Sayangnya pencapaian itu hasil dari kekejaman pemerintah Jendral Daendels terhadap rakyat Indonesia.

Mercusuar de Grote Postweg Edit

Menuju Sumur dapat melalui 2 alternatif, melalui Cibaliung atau Tanjung Lesung. Bila pedalis memilih arah Cibaliung, akan melalui aspal mulus dengan kontur layaknya punuk Unta ~ dan banyak Unta di daerah itu. Alternatif lain pedalis dapat terus menyusuri pantai menuju Tanjung Lesung, hanya saja setelah Tanjung Lesung dan sebelum Sumur jalan rusak sejauh ±20 km menjadi medan yang harus dilalui.

Dengan pertimbangan jalan lebih bagus, kami memilih melalui Cibaliung. Asyiknya lewat Cibaliung, selain punuk Unta yang bertebaran, pemandangan yang dilalui menjadi lebih bervariasi. Hipotesa dalam dunia touring, turunan + jembatan = tanjakan ~ saat turunan ketemu jembatan, berarti habis itu tanjakan ~ semakin terbukti.

Melintas Dermaga Crop

Melaui Cibaliung, selain naik – turun punuk Unta, warung tempat beristirahat menjadi tantangan tersendiri. Godaan untuk beristirahat dangat kuat. Bahkan kami sempat mampir cukup lama di sebuah warung saat senja, meminta Ibu warung merebuskan kerang yang kami beli di Panimbang.

Masih cukup jauh menuju Sumur dan kami tahu dari perangkat GPS, medan yang dilalui masih naik – turun. Walau dihajar turunan dan tanjakan berkali-kali di Cibaliung, tidak membuat kami linglung memperhatikan kondisi tubuh. Tiba di Cimanggu, kami memutuskan untuk bermalam. Berjalan di malam hari, selain berbahaya, keindahan alam yang dilalui tentu tak dapat dinikmati.

Jozlyn

Work hard, bike harder.

By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments