netfit.id – Belakangan limba lari offline mulai digelar dengan peserta terbatas dan prokes yang ketat. Namun antusias masyarakat untuk berlari pun mulai naik. Jadi dipilihlah model hibrida. Gabungan antara offline dan online (virtual).

Jika di event offline ada panitia yang mengawasi jalannya perlombaan sehingga kecurangan bisa diminimalisir, tidak begitu dengan lomba virtual. Pengawas lomba ya peserta sendiri. Di sinilah kejujuran diuji. Sportivitas ditempa. Sayangnya, tak semua hal itu berjalan semestinya.

Lomba virtual memunculkan peserta-peserta dengan kemampuan fisik yang luar biasa. Pace yang fantastis. Seperti dalam sebuah obrolan di sebuah grup WA.

“Gila, baru 20 hari sudah tembus 800 km,” komentar seorang anggota grup saat obrolan menyinggung lomba lari virtual. Ya, patut diacungi jempol peserta yang sanggup lari 40 km tiap hari. Tak lagi back to back marathon penuh, tapi entah apa istilahnya jika dia marathon penuh berhari-hari untuk mengumpulkan jarak sejauh itu selama 20 hari.

Terbaru adalah dari lomba lari virtual Pocari Sweat Run 2021. Seperti dalam feed IG Agus Prayogo, pelari nasional pemegang beberapa rekor nasional (salah satunya jarak HM 1:06:26). Di salah satu foto yang menyertai feed tersebut, ia mengunggah hasil lomba lari virtual Pocari Sweat Run 2021 kategori separo marathon (HM). Terlihat podium 1, 2, dan 3 berturut-turut mencatatkan waktu: 1:00:00; 1:04:00; 1:05:32.

Melihat catatan waktu hasil tersebut, Agus pun berkomentar, angkat aq menjadi muridmu. Ya, soalnya torehan waktu terbaik Agus untuk jarak HM saja masih di bawah tiga teratas.

Berkaitan dengan lomba lari virtual ini, Coach Andri Yanto pun berbagi pendapat tentang tips dan etika berlari virtual.

Menurut mantan jurnalis dan pemegang dua sertifikat kepelatihan ini, virtual race bukan berarti bisa dilakukan secara sembarangan. Tetap ada kaidah yang menjunjung tinggi sportivitas.

Berikut adalah tips dan etika virtual race:

  1. Virtual race akan terasa lebih berat karena ‘individual run’ dan ketiadaan spectators. Karena itu dibutuhkan kekuatan mental. Jangan ada opsi DNF sebelum mengikuti virtual race untuk menjaga mental tetap tangguh.
  2. Mulai di pagi hari untuk menghindari cuaca panas/terik sehingga tak mudah letih.
  3. Bawa minum sendiri atau siapkan water station pribadi. Bisa titip di pos satpam kalau Anda tinggal di perumahan yang bisa untuk virtual run.
  4. Siapkan diri layaknya race ‘offline’. Gunakan periode taper bila dibutuhkan.
  5. Sebisa mungkin pilih rute yang datar untuk menghemat energi dan berlari secara stabil.
  6. Memilih rute dengan banyak pohon dan sepi lalu lintas agar bisa mengambil keuntungan dari melimpahnya oksigen, tak terpapar sinar matahari secara langsung, serta terhindar dari kebisingan dan polusi udara.
  7. Karena berlari berbasiskan GPS maka usahakan hindari tempat-tempat yang rawan gangguan GPS. Di Jakarta biasanya ring GBK kurang akurat untuk GPS begitu juga secara kasuistis di SCBD loop. Kalau Anda berlari di trek 400m maka hitunglah secara manual. 1 lap = 400 meter maka kalau Anda lari 10K = 25 laps dan HM kurang lebih menjadi 52,5 lap plus 100 meter. GPS ‘tidak berlaku’ di trek 400m.
  8. Namanya juga race, maka jangan melakukan pause. Biarkan waktu berjalan terus meskipun Anda terpaksa harus mampir ke toilet/mengikat tali sepatu yang copot/minum di WS dll. Sebab, jam di finis gate saat race sungguhan tak akan distop karena Anda melakukan hal-hal di atas.

Berlarilah dengan menjunjung tinggi sportivitas. Jangan rusak marwah virtual race dengan tindakan-tindakan tak terpuji seperti sengaja memilih rute yang tercatat lebih cepat oleh GPS, jam dititipkan teman yang lebih cepat, naik sepeda/motor, dan tindakan tak sportif lainnya.

Selamat ber-virtual race.

Bagaimana dengan netfitzen? Ingin pansos dengan melakukan kecurangan atau tetap santuy dalam berlomba virtual karena mencari sehat jiwa dan raga?

Mat Dengkul

Menghidupi setiap gerak dan mensyukuri setiap jejak.

View all posts

Add comment

Komentar Kamu