netfit.id – Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah di penghujung tahun kedua. Banyak aktivitas terhenti akibat pandemi ini. Terutama aktivitas yang menimbulkan kerumunan. Salah satunya adalah lomba lari. Meski tak segegap gempita lari jalan raya, lomba lari lintas alam (lari trail) pun terpengaruh Pandemi.

Toh, setelah setahun pandemi berlalu, beerapa kegiatan lari trail mulai menggeliat. Laporan penyelenggaraan lari trail itulah yang mengemuka saat diselengarakan Musyawarah Nasional Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) di Jakarta, pada Senin, 27 Desember 2021. Asosiasi ini merupakan badan perkumpulan pelari gunung yang berdiri sejak 19 Februari 2017. Munas ALTI diikuti oleh para pengurus pusat dan provisi ALTI, berlangsung secara daring (online) maupun offline (luring) di seluruh Indonesia.

Dalam munas tersebut, Agung Adidjana, dari ALTI Jabar mengatakan, pada tahun pertama pandemi sejumlah event lari trail tertunda atau malah batal. Kalaupun diselenggarakan, dilakukan secara hibrida, yakni virtual dan lari di lokasi lomba. Sejumlah lomba lari trail yang terselenggara di kawasan Jawa Barat antara lain Tahura Trail Run, Javan Hawk Eagle Trail, Sentul Trail Midnight, dan Manglayang Trail Run. Pada acara offline, aktivitas dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kami sangat mengapresasi penyelenggaraan event trail. Keterbatasan akibat pandemi tidak mengurangi semangat kami,” kata Agung.

Rustian dari Pengprov ALTI Yogyakarta juga mengatakan, pandemi menjadi kendala terutama menyangkut perizinan event trail yang diselenggarakan di daerahnya. Tahun lalu, sejumlah event trail seperti Coast to Coast, SangiRun, dan Sleman Temple Run terlaksana dengan baik. “Untuk lebih memasyarakatkan lari trail kami juga membuat event-event mini trail di sejumlah kabupatan,” katanya.

Hendrikus Mutter, penyelenggara sejumlah event race trail, termasuk yang terakhir Mandalika 100, menambahkan prosedur perizinan masih belum pasti terkait belum tuntasnya pandemi. “Bahkan Rinjani 100 sampai mundur tiga kali. Tahun depan, Bromo Tengger Semeru (BTS), mungkin terpengaruh dengan situasi setelah meletusnya Gunung Semeru, membuat perizinan masih menjadi pertanyaan,” kata Hendrikus.

Kalaupun lomba terlanksana, penyelenggara lomba lari trail Nanang Handoko menambahkan, walaupun Sentul Ultra Trail memperoleh izin pada 2020, namun sejumlah persyaratan harus dipenuhi. Misalnya, peserta dibatasai hanya untuk 150 orang. Lintasan lari juga tidak boleh melewati komunitas seperti perkampungan atau desa. “Akhirnya kita mencari rute yang langsung masuk hutan,” kata Nanang.

Sementara Sianti dari The Running Club (TRC) mengatakan, tidak adanya race yang terselenggara selama pandemi menyebabkan TRC membuat event untuk menjaga semangat berlari anggotanya. Selama tahun 2021 TRC menyelenggarakan tiga event lari trail dengan peserta terbatas, yakni, Ultra Trail Cisadon Loop, mengundang pelari trail Indonesia; Ultra Trail Everesting Paniisan, dan Ultra Trail Gunung Kencana. “Kami ingin ada standar lari trail di Indonesia itu seperti apa,” katanya.

Potensi Wisata

Sebagai olahraga yang mengambil lintasan di alam bebas, olahraga trail bisa menjadi salah satu andalan wisata olahraga (sport tourism). “Kami ingin mengembangkan olahraga trail di daerah karena potensinya sangat tinggi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata olahraga,” kata Ahmad I, Ketua Pengprov ALTI Sumatra Barat. Sejumlah kawasan di Sumatra Barat seperti kawasan Gunung Kerinci dan sekitarnya diharapkan menjadi salah satu kawasan lari trail yang sangat menarik. “Ke depannya, dengan dukungan ALTI kami berharap event-event lari trail di daerah kami lebih maju lagi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Sekjen ALTI Sulteng Arjuna Wiwo yang berharap ALTI segera dapat menyusun panduan kompetisi lari trail Indonesia. “Saat ini kami seperti kebingungan,” katanya. Menurut Arjuna, Pengprov Sulteng memiliki sejumlah event ultra trail yang diharapkan bisa terselenggara di tahun depan.

Sementara Akbar Rafsanjani dari Javan Hawk Eagle Trail (JET), komunitas pelari trail yang peduli pada konservasi dan penyelamatan elang jawa di Bandung dan Bogor, menyebutkan pada 2020 mereka membuat simulasi race trail Covid, prokes percontohan lari trail; hari cinta satwa dan puspa, dengan peserta berjumlah 50 orang. “Kami tidak melulu lari, tetapi juga peduli terhadap kelestarian elang jawa,” kata Akbar.

Juston Pangaribuan dari Manglayang Trail Running berharap, adanya ALTI akan membuat agenda lari trail lebih terencana. “Tidak ada masalah jika beberapa race trail terselenggara di sebuah daerah. Akan tetapi tentu bisa dibedakan dengan kreativitas masing-masing,” kata Juston.

Rencana Kerja

Dalam Munas ALTI juga dibahas penyusunan standar sarana dan prasarana trail secara internasional, nasional, provinsi, dan kabupaten. Penyusunan standar juga akan diterapkan terhadap berbagai kejuaraan trail run yang berlangsung di Indonesia, baik kejuaraan internasional, nasional, provinsi, maupun kabupaten.

ALTI juga akan menaruh perhatian terhadap pembinaan atlet-atlet pelari trail run Indonesia, termasuk pencarian bakat dan pengembangannya. Demikian juga dengan penyusunan standar kompetisi pelatih lari trail. ALTI juga akan mendata dan mengumpulkan jalur-lajur lomba trail run yang ada di Indonesia.

Munas kali ini juga memutuskan untuk menunda pemilihan Ketua Umum PP ALTI periode 2021-2025 menggantikan Lexi Rohi hingga 27 Januari 2022. Sejumlah nama sudah diusulkan oleh para peserta untuk menjadi Ketua Umum PP ALTI mendatang.

Mat Dengkul

Menghidupi setiap gerak dan mensyukuri setiap jejak.

View all posts

Add comment

Komentar Kamu